Antoniuszone’s Weblog


wishing u a very Merry Xmas and Happy New Year

Posted in Uncategorized oleh antoniuszone pada Desember 27, 2008
Tags: , , , ,

Photobucket

May Lord Jesus Bless you all!

You are my hiding place

Posted in Media oleh antoniuszone pada Desember 9, 2008
Tags: , , , , , , ,

Push Up!

Posted in renungan oleh antoniuszone pada Desember 6, 2008
Tags: , , , , , , ,

Ada seorang Profesor mata kuliah Religi yang bernama Dr.Christianson yang mengajar di sebuah perguruan tinggi kecil di bagian barat Amerika Serikat. Dr. Christianson mengajar ke-Kristenan di perguruan tinggi ini dan setiap siswa semester pertama diwajibkan untuk mengikuti kelas ini. Sekalipun Dr. Christianson berusaha keras menyampaikan intisari Injil kepada kelasnya, ia menemukan bahwa kebanyakan siswanya memandang materi yang diajarnya sebagai suatu kegiatan yang membosankan. Meskipun ia sudah berusaha sebaik mungkin, kebanyakan siswa menolak untuk menanggapi Kekristenan secara serius.

Tahun ini, Dr. Christianson mempunyai seorang siswa yang spesial yang bernama, Steve. Steve belajar dengan tujuan untuk melanjutkan studinya ke seminari dan mau masuk ke dalam pelayanan. Steve seorang yang popular, ia disukai banyak orang, dan seorang atlet yang memiliki fisik yang prima dan ia merupakan siswa terbaik di kelas professor itu.

Suatu hari, Dr Christanson meminta Steve untuk tidak langsung pulang setelah kuliah karena ia mau berbicara kepadanya. “Berapa push up yang bisa kamu lakukan?” Steve menjawab, “Saya melakukan sekitar 200 setiap malam.” “200?  Lumayan itu, Steve,” Dr. Christianson melanjutkan. “Apakah kamu dapat melakukan 300?” Steve menjawab, “Saya tidak tahu. Saya tidak pernah melakukan 300  sekaligus.” “Apakah kamu pikir kamu dapat melakukannya? ” tanya Dr.Christianson. “Ok, saya bisa coba,” jawab Steve.

“Saya mempunyai satu proyek di kelas dan saya memerlukan kamu untuk  melakukan 10 push up setiap kali, tapi sebanyak 30 kali, jadi totalnya 300. Dapatkah kamu melakukannya? ” tanya sang profesor. Steve menjawab, “Baiklah, saya pikir saya bisa. Ok, saya akan melakukannya. ” Dr Christianson berkata, “Bagus sekali! Saya memerlukan Anda untuk melakukannya Jumat ini.” Dr Christianson menjelaskan kepada Steve apa yang ia rencanakan untuk kelas mereka pada Jumat itu.

Pada hari Jumat, Steve datang awal ke kelas dan duduk di bagian depan kelas. Saat kelas bermula, sang profesor mengeluarkan satu kotak besar donut. Bukan donut yang biasa tetapi yang besar dan yang punya krim di tengah-tengah. Setiap orang sangat bersemangat karena kelas itu merupakan kelas terakhir pada hari itu dan mereka bisa menikmati akhir pekan mereka setelah pesta di kelas Dr Christianson.

Dr. Christianson pergi ke baris pertama dan bertanya, “Cynthia, apakah kamu mau salah satu dari donut ini?” Cynthia menjawab, “Ya”. Dr. Christianson lalu berpaling kepada Steve, “Steve, apakah kamu mau melakukan 10 push up agar Cynthia bisa mendapatkan donut ini?” “Tentu saja!” Steve lalu melompat ke lantai dan dengan cepat melakukan 10 push up. Lalu Steve kembali ke tempat duduknya. Dr.Christianson meletakkan satu donut di meja Cynthia.

1893040696_9f4aaa2727

Dr. Christianson lalu pergi siswa selanjutnya, dan bertanya, “Joe, apakah kamu mau suatu donut?” Joe berkata, “Ya.” Dr. Christianson bertanya, “Steve, maukah kamu melakukan 10 push up supaya Joe bisa mendapatkan donutnya?”

Steve melakukan 10 push up, dan Joe mendapatkan donutnya. Begitulah selanjutnya, di baris yang pertama. Steve melakukan 10 push up untuk setiap orang sebelum mereka mendapatkan donut mereka. Di baris yang kedua, Dr. Christianson berhadapan dengan Scott. Scott seorang pemain basket, dan fisiknya sekuat Steve. Ia juga seorang yang sangat popular dan punya banyak teman wanita.

Saat profesor bertanya, “Scott apakah kamu mau donut?” Jawaban Scott adalah, “Baiklah, bisakah saya melakukan push up saya sendiri?” Dr. Christianson berkata, “Tidak, Steve harus melakukannya. ” Lalu Scott berkata, “Kalau begitu, saya tidak mau donutnya.” Dr. Christianson mengangkat bahunya dan berpaling kepada Steve dan meminta, “Steve, apakah kamu mau melakukan 10 push up agar Scott bisa mendapatkan donut yang tidak ia kehendaki?” Dengan ketaatan yang sempurna Steven mulai melakukan 10 push up. Scott berteriak, “HEI! Saya sudah berkata, saya tidak menginginkannya! ” Dr Christianson berkata, “Lihat di sini! Ini kelas saya dan semuanya ini donut saya. Biarkan saja di atas meja jika kamu tidak menginginkannya. ” Ia lalu menempatkan satu donut di atas meja Scott.

Di waktu ini, Steve sudah mulai melakukan push up dengan agak perlahan. Ia hanya duduk di lantai saja karena terlalu capek untuk kembali ke tempat duduknya. Ia mulai berkeringat. Dr. Christianson mulai di baris ketiga. Para siswa sudah mulai merasa marah. Dr Christianson bertanya kepada Jenny, “Jenny, apakah kamu mengingikan donut ini?” Dengan tegas Jenny menjawab, “Tidak.” Lalu Dr. Christianson bertanya Steve, “Steve, maukah kamu melakukan 10 push up lagi agar Jenny bisa mendapatkan donut yang tidak ia mau?”

Steve melakukan 10 push up dan Jenny mendapatkan satu donut. Ruang sudah mulai dipenuhi oleh rasa tidak nyaman. Para siswa sudah mulai berkata,”Tidak! ” dan semua donut dibiarkan di atas meja tanpa ada yang  memakannya. Steve sudah kelelahan dan harus berusaha keras untuk tetap terus melakukan push up untuk setiap donut itu. Lantai tempat ia melakukan push up sudah dibasahi keringatnya dan lengannya sudah mulai kemerahan.Dr Christianson bertanya kepada Robert, seorang ateis yang paling lantang suaranya kalau berdebat di kelas, apakah ia mau membantu untuk  memastikan bahwa Steve tidak curang dan tetap melakukan 10 push up untuk setiap donut karena dia sendiri sudah tidak sanggup melihat Steve melakukan push upnya.

Dr. Christianson sudah sampai ke baris ke-empat sekarang. Dan beberapa siswa dari kelas yang lain yang sudah bergabung di kelas itu dan mereka duduk di tangga. Saat profesor menghitung kembali, ternyata ada 34 siswa sekarang di kelas. Ia mulai khawatir apakah Steve dapat melakukannya. Dr. Christianson melanjutkan dari satu siswa ke siswa yang selanjutnya sampai ke akhir baris itu. Dan Steve sudah mulai bergumul. Ia membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan push up-nya. Steve bertanya kepada Dr. Christianson, “Apakah hidung saya harus menyentuh lantai untuk setiap push up yang saya lakukan?” Dr.Christianson berpikir sejenak dan berkata, “Semuanya ini push up kamu. Kamu yang pegang kendali. Kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau.” Dan Dr. Christianson melanjutkan ke siswa yang selanjutnya.

Beberapa saat kemudian, Jason, seorang siswa dari kelas lain dengan santai mau masuk ke kelas, dan sebelum ia melangkahi masuk, seluruh kelas berteriak serentak, “JANGAN! Jangan masuk! Kamu berdiri di luar saja!” Jason kaget karena ia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Steve mengangkat kepalanya dan berkata, “Tidak, biarkan dia masuk.”

Professor Christianson berkata, “Kamu sadar bahwa jika Jason masuk, kamu harus melakukan 10 push up untuk dia?”

Steve berkata, “Ya, biarkan dia masuk. Berikan donut kepadanya.” Dr.Christianson berkata, “Ok Steve. Jason, kamu mau donut?” Jason yang baru masuk ke kelas dan tidak tahu apa-apa menjawab, “Ya, tentu saja, berikan saya  donut.”

Steve melakukan 10 push up dengan sangat perlahan dan bersusah payah. Jason yang kebingungan diberikan satu donut. Dr. Christianson sudah selesai dengan baris ke-empat dan mulai ke tempat siswa-siswa dari kelas lain yang duduk di tangga.

Tangan Steve sudah mulai gemetaran dan ia harus bergumul untuk mengangkat dirinya melawan tarikan gravitas. Di waktu ini, keringatnya bercucuran, dan tidak kedengaran apa-apa kecuali bunyi nafasnya yang kencang. Mata setiap orang di kelas itu mulai basah. Dua siswa terakhir adalah dua siswa perempuan yang sangat popular, Linda dan Susan.

Dr. Christianson pergi ke Linda, “Linda, apakah kamu mau donut?” Linda dengan sedih berkata, “Tidak, terima kasih”

Professor Christianson dengan perlahan bertanya, “Steve, maukah kamu melakukan 10 push up supaya Linda bisa mendapatkan donut yang tidak ia  mau?” Dengan pergumulan yang berat, Steve dengan perlahan melakukan push-up untuk Linda. Lalu Dr Christianson berpaling kepada siswa yang terakhir,Susan. “Susan, kamu mau donut ini?” Susan dengan air mata yang berlinangan di pipinya mulai menangis. “Dr Christianson, mengapa saya tidak boleh membantunya? “

Dr. Christianson, dengan mata yang berkaca-kaca berkata, “Tidak, Steve harus melakukannya sendiri; saya telah memberinya tugas itu dan ia bertanggungjawab untuk memastikan setiap orang mempunyai kesempatan untuk mendapat donut itu, tidak kira apakah mereka menginginkannya atau  tidak. Hanya Steve seorang saja yang mempunyai nilai yang sempurna. Setiap orang telah gagal dalam ujian mereka, mereka entah bolos kelas atau memberikan saya tugas yang di bawah standar. Steve memberitahu saya di latihan football, saat seorang pemain buat salah, ia harus buat push up. Saya memberitahu Steve bahwa tidak seorang pun dari kalian yang boleh datang ke pesta saya melainkan ia membayar harga dengan melakukan push up bagi kalian. Steve dan saya telah membuat perjanjian demi kalian semua.”

“Steve, maukah kamu membuat 10 push up supaya Susan bisa mendapatkan donut?” Steve dengan sangat perlahan melakukan 10 push up yang terakhirnya. Ia tahu ia sudah menyelesaikan semua yang harus dia lakukan. Secara total, Steve telah melakukan 350 push up, tangannya tidak tahan lagi dan ia jatuh tersungkur ke lantai. Dr. Christianson lalu berpaling ke kelas dan berkata, “Dan, demikianlah, Juru Selamat kita, Yesus Kristus, di atas kayu salib, ia telah melakukan semua yang dibutuhkan olehnya. Ia menyerahkan semuanya. Dan seperti mereka yang ada di ruangan ini, banyak di antara kita yang membiarkan hadiah itu begitu saja di atas meja, sama sekali tidak kita jamah.”

Dua siswa mengangkat Steve dari lantai untuk duduk di kursi, walaupun sangat lelah secara fisik, Steve tersenyum bahagia. “Engkau sudah berbuat dengan baik, hambaku yang baik dan setia,” kata professor dan ia menambahkan, “Tidak semua khotbah disampaikan dengan  kata-kata.” Berpaling kepada kelas, profesor berkata, “Harapan saya adalah kalian dapat memahami dan sepenuhnya mengerti akan semua kekayaan kasih karunia dan rahmat yang telah diberikan kepada kalian lewat pengorbanan Yesus Kristus. Allah tidak menyayangkan putra satu-satu-Nya, tetapi menyerahkan dia untuk kita semua. Apakah kita memilih untuk menerima menolak karunia-Nya, harganya sudah lunas dibayar.”

“Apakah kita akan menjadi orang yang bodoh dan yang tidak bersyukur dengan meninggalkan hadiah itu di atas meja?”

12

For God so loved the world that he gave his one and only Son, that whoever believes in him shall not perish but have eternal life. (John 3:16)

Berkorban Itu Indah

Posted in renungan oleh antoniuszone pada Desember 4, 2008
Tags: ,

leaf

Musim hujan sudah berlangsung dua bulan sehingga di mana-mana pepohonan nampak menghijau. Seekor ulat menyeruak di antara daun-daun hijau yang bergoyang-goyang diterpa angin.

“Apa kabar daun hijau,”katanya. Tersentak daun hijau menoleh ke arah suara yang datang. “Oo,kamu ulat. Badanmu kelihatan kurus dan kecil, mengapa?” tanya daun hijau. “Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku. Bisakah engkau membantuku sobat?”kata ulat kecil.

“Tentu…tentu…mendekatlah kemari.” Daun hijau berpikir,” jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau. Hanya saja aku akan kelihatan berlobang2. Tapi tak apalah. ”

Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau. Setelah makan dengan kenyang, ulat berterima kasih kepada daun hijau yang telah merelakan bagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas di dalam diri daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlobang di sana-sini namun ia bahagia bisa melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang lapar. Tidak lama berselang ketika musim panas datang daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ke tanah, disapu orang dan dibakar.


leaf2
Apa yang terlalu berarti di hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama? Tokh akhirnya semua yang ada akan binasa. Daun hijau yang baik mewakili orang-orang yang masih mempunyai ” hati ” bagi sesamanya. Yang tidak menutup mata ketika sesamanya dalam kesulitan. Yang tidak membelakangi dan seolah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak minta tolong. Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri.

Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang tidak mudah ,tetapi indah. Ketika berkorban, diri kita sendiri menjadi seperti daun hijau yang berlobang namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita. kita akan tetap hijau,Allah akan tetap memberkati dan memelihara kita. Bagi “daun hijau”, berkorban merupakan suatu hal yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya bisa tersenyum karena pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya karena menyadari bahwa ia tidak akan selamanya tinggal sebagai “daun hijau”. Suatu hari ia akan kering dan jatuh.

Demikianlah kehidupan kita,hidup ini hanya sementara kemudian kita akan mati. Itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan baik ;kasih; pengorbanan ; pengertian ;kesetiaan ; kesabaran dan kerendahan hati.

Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membawa sukacita tersendiri bagi anda. Dalam banyak hal kita bisa berkorban. Mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu bagi mereka, memberikan apa yang kita punyai dan masih banyak lagi pengorbanan yang bisa kita lakukan.

Yang mana yang sering kita lakukan? jadi ulat kecil yang menerima kabaikan orang atau menjadi “daun hijau” yang senang memberi?

Ingatkah kita pada si janda miskin yang di tengah ketidakpunyaannya  tetapi justru ia memberi semua yang dipunyainya ? Ingatkah kita akan ” lebih baik memberi daripada menerima ” ingatkah kita bahwa “Tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah”

Sudahkah pernah anda rasakan kesenangan yang “daun hijau” rasakan pada saat ia memberi daunnya untuk si ulat kecil ? Bisakah anda bedakan rasa yang akan anda rasakan bila: anda punya, maka anda memberi dan anda tidak punya, tetapi anda memberi ??? anda punya dan memberi……itu sudah biasa,sudah umumnya, sudah tidak heran…tapi anda tidak punya, justru anda memberi lebih…itu luar biasa,…………… itu sungguh aneh bagi orang, itulah KASIH…

Tuhan Yesus Memberkati Anda sekalian!

Posted in renungan oleh antoniuszone pada November 13, 2008

Sebuah renungan…

beggar

Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama “Smiling”..

Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka.. Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah. Setelah menerima tugas tersebut, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi ke restoran McDonald’s yang berada di sekitar kampus…

Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering…! Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong. Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian. Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu “bau badan kotor” yang cukup menyengat, dan… tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil…! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali….. Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang “tersenyum” kearah saya…. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam… tapi juga memancarkan kasih sayang…! Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima ‘kehadirannya’ ditempat itu… Ia menyapa “Good day..!” sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan. Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya ‘tugas’ yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah “penolong”nya. Saya merasa sangat prihatin.. setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka…,dan kami bertiga tiba-2 saja sudah sampai didepan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin

saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan… Lelaki bermata biru segera memesan “Kopi saja, satu cangkir… Nona !” Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.

Tiba-2 saja saya diserang oleh rasa iba… membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu-2 lainnya, yang hampir semuanya…sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya…, dan pasti juga melihat semua ‘tindakan’ saya… Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum… dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah. Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat. .. saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap.. “makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua….” Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2… dan dia hanya mampu berkata “Terima kasih banyak, nyonya….” Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata… “Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian….” Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu…. Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka… dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata… “Sekarang saya tahu,

kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku…, yang pasti, untuk memberikan ‘keteduhan’ bagi diriku dan anak-2ku…! ” Kami saling berpegangan tangan beberapa saat…… dan saat itu kami benar-2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena ‘bisikanNYA’ lah kami telah mampu memanfaatkan ‘kesempatan’ .. untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan. Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya… mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin ‘berjabat tangan’ dengan kami… Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap.. “tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini…, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami…” Saya hanya bisa berucap “terimakasih” sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada ‘magnet’ yang menghubungkan batin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-lambaikan tangannya kearah kami…! Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 ‘tindakan’ yang tidak pernah terpikir oleh saya dan sekaligus merupakan ‘Pesan dari Tuhan’ bagi saya…, maupun bagi orang-2 yang ada disekitar saya saat itu. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa ‘kasih sayang’ Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali…! Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan ‘cerita’ ini ditangan saya. Saya menyerahkan ‘paper’ saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, “Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?” dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca…. para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi… Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya… membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya. Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya … “Tersenyumlah dengan ‘HATImu’, dan kau akan mengetahui betapa ‘dahsyat’ dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu…” Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah ‘menggunakan’ diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald’s, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus… dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu : “Penerimaan Tanpa Syarat“. Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para embacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara…. Mencintai Sesama, dengan memanfaatkan sedikit  harta benda yang kita miliki…, dan bukannya… Mencintai harta benda yang bukan milik kita kita….Dengan memanfaatkan sesama…!

Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada ‘malaikat’ yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama… yang sedang membutuhkan uluran tangannya… !

Orang bijak mengatakan :

- Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu. .., tetapi hanya ‘sahabat yang bijak’ yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu.

- Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu… Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu…!

- Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak; Orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak…! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya..!

- Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka,… hewan itu tetap harus berusaha untuk bisa mendapatkannya.

- Orang-orang muda yang ‘cantik’ adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang ‘cantik’ adalah hasil karya seni…. Belajarlah dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri.


God Bless You All!

Selalu ada yang memperhatikan kita

Posted in renungan oleh antoniuszone pada Oktober 30, 2008
Tags: , , , , ,

bus

Seluruh penumpang di dalam bus merasa simpati melihat seorang wanita muda dengan tongkatnya meraba-raba menaiki tangga bus.

Dengan tangannya yang lain dia meraba posisi di mana sopir berada, dan membayar ongkos bus. Lalu berjalan ke dalam bus mencari-cari bangku yang kosong dengan tangannya. Setelah yakin bangku yang dirabanya kosong, dia duduk, meletakkan tasnya di atas pangkuan, dan satu tangannya masih memegang tongkat.

Satu tahun sudah, Jane, wanita muda itu, mengalami buta. Suatu kecelakaan telah berlaku atasnya, dan menghilangkan penglihatannya untuk selama-lamanya. Dunia tiba-tiba saja menjadi gelap dan segala harapan dan cita-cita menjadi sirna. Dia adalah wanita yang penuh dengan ambisi menaklukan dunia, aktif di segala perkumpulan, baik di sekolah, rumah maupun di lingkungan gerejanya. Tiba-tiba saja semuanya sirna, begitu kecelakaan itu dialaminya. Kegelapan, frustrasi, dan rendah diri tiba-tiba saja menyelimuti jiwanya. Hilang sudah masa depan yang selama ini dicita-citakan. Merasa tak berguna dan tak ada seorangpun yang sanggup menolongnya selalu membisiki hatinya. “Bagaimana ini bisa terjadi padaku?” dia menangis. Hatinya protes, diliputi kemarahan dan putus asa. Tapi, tak peduli sebanyak apa pun dia mengeluh dan menangis, sebanyak apa pun dia protes, sebanyak apapun dia berdo’a dan memohon, dia harus tahu, penglihatannya tak akan kembali.

Di antara frustrasi, depresi dan putus asa, dia masih beruntung, karena mempunyai suami yang begitu penyayang dan setia, John. John adalah seorang prajurit angkatan laut biasa yang bekerja sebagai security di sebuah perusahaan. Dia mencintai Jane dengan seluruh hatinya. Ketika mengetahui Jane kehilangan penglihatan, rasa cintanya tidak berkurang. Justru perhatiannya makin bertambah, ketika dilihatnya Jane tenggelam ke dalam jurang keputus-asaan. John ingin menolong mengembalikan rasa percaya diri Jane, seperti ketika Jane belum menjadi buta. John tahu, ini adalah perjuangan yang tidak gampang. Butuh ekstra waktu dan kesabaran yang tidak sedikit.

Karena buta, Jane tidak bisa terus bekerja di perusahaannya. Dia berhenti dengan terhormat. John mendorongnya supaya belajar huruf Braile. Dengan harapan, suatu saat bisa berguna untuk masa depan. Tapi bagaimana Jane bisa belajar? Sedangkan untuk pergi ke mana-mana saja selalu diantar John? Dunia ini begitu gelap. Tak ada kesempatan sedikitpun untuk bisa melihat jalan.

Dulu, sebelum menjadi buta, dia memang biasa naik bus ke tempat kerja dan ke mana saja sendirian. Tapi kini, ketika buta, apa sanggup dia naik bus sendirian? Berjalan sendirian? Pulang-pergi sendirian? Siapa yang akan melindunginya ketika sendirian? Begitulah yang berkecamuk di dalam hati Jane yang putus asa. Tapi John membimbing jiwa Jane yang sedang frustasi dengan sabar. Dia merelakan dirinya untuk mengantar Jane ke sekolah, di mana Jane musti belajar huruf Braile. Dengan sabar John menuntun Jane menaiki bus kota menuju sekolah yang dituju. Dengan susah payah dan tertatih-tatih Jane melangkah bersama tongkatnya. Sementara John berada di sampingnya.

Selesai mengantar Jane dia menuju tempat dinas. Begitulah, selama berhari-hari dan berminggu-minggu John mengantar dan menjemput Jane. Lengkap dengan seragam dinas security. Tapi lama-kelamaan John sadar, tak mungkin selamanya Jane harus diantar; pulang dan pergi. Bagaimanapun juga Jane harus bisa mandiri, tak mungkin selamanya mengandalkan dirinya. Sebab dia juga punya pekerjaan yang harus dijalaninya. Dengan hati-hati dia mengutarakan maksudnya, supaya Jane tak tersinggung dan merasa dibuang. Sebab Jane, bagaimanapun juga masih terpukul dengan musibah yang dialaminya. Seperti yang diramalkan John, Jane histeris mendengar itu. Dia merasa dirinya kini benar-benar telah tercampakkan. “Saya buta, tak bisa melihat!” teriak Jane. “Bagaimana saya bisa tahu saya ada di mana? Kamu telah benar-benar meninggalkan saya.”

John hancur hatinya mendengar itu. Tapi dia sadar apa yang musti dilakukan. Mau tak mau Jane musti terima. Musti mau menjadi wanita yang mandiri. John tak melepas begitu saja Jane. Setiap pagi, dia mengantar Jane menuju halte bus. Dan setelah dua minggu, Jane akhirnya bisa berangkat sendiri ke halte. Berjalan dengan tongkatnya. John menasehatinya agar mengandalkan indera pendengarannya, di manapun dia berada. Setelah dirasanya yakin bahwa Jane bisa pergi sendiri, dengan tenang John pergi ke tempat dinas. Sementara Jane merasa bersyukur bahwa selama ini dia mempunyai suami yang begitu setia dan sabar membimbingnya. Memang tak mungkin bagi John untuk terus selalu menemani setiap saat ke manapun dia pergi. Tak mungkin juga selalu diantar ke tempatnya belajar, sebab John juga punya pekerjaan yang harus dilakoni. Dan dia adalah wanita yang dulu, sebelum buta, tak pernah menyerah pada tantangan dan wanita yang tak bisa diam saja. Kini dia harus menjadi Jane yang dulu, yang! tegar dan menyukai tantangan dan suka bekerja dan belajar.

Hari-hari pun berlalu. Dan sudah beberapa minggu Jane menjalani rutinitasnya belajar, dengan mengendarai bus kota sendirian. Suatu hari, ketika dia hendak turun dari bus, sopir bus berkata, “Saya sungguh iri padamu”. Jane tidak yakin, kalau sopir itu bicara padanya. “Anda bicara pada saya?” ” Ya”, jawab sopir bus. “Saya benar-benar iri padamu”. Jane kebingungan, heran dan tak habis berpikir, bagaimana bisa di dunia ini, seorang buta, wanita buta, yang berjalan terseok-seok dengan tongkatnya hanya sekedar mencari keberanian mengisi sisa hidupnya, membuat orang lain merasa iri? “

Apa maksud anda?” Jane bertanya penuh keheranan pada sopir itu. “Kamu tahu,” jawab sopir bus, “Setiap pagi, sejak beberapa minggu ini, seorang lelaki muda gagak dengan seragam militer selalu berdiri di seberang jalan. Dia memperhatikanmu dengan harap-harap cemas ketika kamu menuruni tangga bus. Dan ketika kamu menyeberang jalan, dia perhatikan langkahmu dan bibirnya tersenyum puas begitu kamu telah melewati jalan itu. Begitu kamu masuk gedung sekolahmu, dia meniupkan ciumannya padamu, memberimu salut, dan pergi dari situ. Kamu sungguh wanita beruntung, ada yang memperhatikan dan melindungimu”.

Air mata bahagia mengalir di pipi Jane. Walaupun dia tidak melihat orang tersebut, dia yakin dan merasakan kehadiran John di sana. Dia merasa begitu beruntung, sangat beruntung, bahwa John telah memberinya sesuatu yang lebih berharga dari penglihatan. Sebuah pemberian yang tak perlu untuk dilihat; kasih sayang yang membawa cahaya, ketika dia berada dalam kegelapan.

Inti dari cerita ini:

Demikian juga Allah, Tuhan kita.

Sekalipun kita mungkin tidak menyadari kehadiranNya tapi percayalah ada Dia di atas sana yang selalu memperhatikan dan menjaga hidup dan keseharian kita.
Dia yang cemas saat kita berbuat kesalahan dan Dia yang senang saat kita mengikuti kehendakNya. Sadarilah, Tuhan selalu bersama kita di setiap keadaan kita.

“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”

(Mat 28:20)


Plans For Your Life

Posted in renungan oleh antoniuszone pada Oktober 28, 2008
Tags:

Ada seorang anak laki-laki yang berambisi bahwa Suatu hari nanti ia akan menjadi jenderal Angkatan Darat. Anak itu pandai dan memiliki ciri-ciri yang lebih daripada cukup untuk dapat membawa nya kemanapun ia mau. Untuk itu ia bersyukur kepada Tuhan, oleh karena ia adalah seorang anak yang takut akan Tuhan dan ia selalu berdoa agar supaya suatu hari nanti impiannya itu akan menjadi kenyataan.

Sayang sekali, ketika saatnya tiba baginya untuk bergabung dengan Angkatan Darat, ia ditolak oleh karena memiliki telapak kaki rata. Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan hasratnya untuk menjadi jenderal dan untuk hal itu ia mempersalahkan Tuhan yang tidak menjawab doanya. Ia merasa seperti berada seorang diri, dengan perasaan yang kalah, dan di atas segalanya, rasa amarah yang belum pernah dialaminya sebelumnya.

Amarah yang mulai ditujukannya terhadap Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan ada, namun tidak mempercayaiNya lagi sebagai seorang sahabat, tetapi sebagai seorang tiran (penguasa yang lalim). Ia tidak pernah lagi berdoa atau melangkahkan kakinya ke dalam gereja. Ketika orang-orang seperti biasanya berbicara tentang Tuhan yang Maha Pengasih, maka ia akan mengejek dan menanyakan pertanyaan-pertanya an rumit yang akan membuat orang-orang percaya itu kebingungan.

Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan menjadi dokter. Dan begitulah, ia menjadi dokter dan beberapa tahun kemudian menjadi seorang ahli bedah yang handal. Ia menjadi pelopor di dalam pembedahan yang berisiko tinggi dimana pasien tidak memiliki kemungkinan hidup lagi apabila tidak ditangani oleh ahli bedah muda ini. Sekarang, semua pasiennya memiliki kesempatan, suatu hidup yang baru.

Selama bertahun-tahun, ia telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa, baik anak-anak maupun orang dewasa. Para orang tua sekarang dapat tinggal dengan berbahagia bersama dengan putra atau putri mereka yang dilahirkan kembali, dan para ibu yang sakit parah sekarang masih dapat mengasihi keluarganya. Para ayah yang hancur hati oleh karena tak seorangpun yang dapat memelihara keluarganya setelah kematiannya, telah diberikan kesempatan baru.

Setelah ia menjadi lebih tua maka ia melatih para ahli bedah lain yang bercita-cita tinggi dengan tekhnik bedah barunya, dan lebih banyak lagi jiwa yang diselamatkan. Pada suatu hari ia menutup matanya dan pergi menjumpai Tuhan. Di situ, masih penuh dengan kebencian, pria itu bertanya kepada Tuhan mengapa doa-doanya tidak pernah dijawab, dan Tuhan berkata, “Pandanglah ke langit, anakKu, dan lihatlah impianmu menjadi kenyataan.”

Di sana, ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak laki-laki yang berdoa untuk bisa menjadi seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan Darat dan menjadi prajurit. Di sana ia sombong dan ambisius, dengan pandangan mata yang seakan-akan berkata bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah resimen. Ia kemudian dipanggil untuk mengikuti peperangannya yang pertama, akan tetapi ketika ia berada di kamp di garis depan, sebuah bom jatuh dan membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam peti kayu untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya. Semua ambisinya kini hancur berkeping-keping saat orang tuanya menangis dan terus menangis.

Lalu Tuhan berkata, “Sekarang lihatlah bagaimana rencanaKu telah terpenuhi sekalipun engkau tidak setuju.” Sekali lagi ia memandang ke langit. Di sana ia memperhatikan kehidupannya, hari demi hari dan berapa banyak jiwa yang telah diselamatkannya. Ia melihat senyum di wajah pasiennya dan di wajah anggota keluarganya dan kehidupan baru yang telah diberikannya kepada mereka dengan menjadi seorang ahli bedah.

Kemudian di antara para pasiennya, ia melihat seorang anak laki-laki yang juga memiliki impian untuk menjadi seorang prajurit kelak, namun sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat bagaimana ia telah menyelamatkan nyawa anak laki-laki itu melalui pembedahan yang dilakukannya. Hari ini anak laki-laki itu telah dewasa dan menjadi seorang jenderal. Ia hanya dapat menjadi jenderal setelah ahli bedah itu menyelamatkan nyawanya.

Sampai di situ, Ia tahu bahwa Tuhan ternyata selalu berada bersama dengannya. Ia mengerti bagaimana Tuhan telah memakainya sebagai alatNya untuk menyelamatkan beribu-ribu jiwa, dan memberikan masa depan kepada anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit itu. (Diambil dari Inspirational Christian Stories oleh Vincent Magro-Attard)

Untuk dapat melihat kehendak Tuhan digenapkan di dalam hidup anda, anda harus mengikuti Tuhan dan bukan mengharapkan Tuhan yang mengikuti anda. (Dave Meyer, Life In The Word, Juni 1997)

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya…. ” (Pengkotbah 3:11)


Posted in renungan oleh antoniuszone pada Oktober 27, 2008
Tags: ,

Aku : “Zzzzz Zzzzz Zzzzz……”

TUHAN : “Bangun !!!”

Aku : “Hmmm…. siapa ya ?”

Tuhan : “AKU ??? AKU TUHAN. AKU dengar di doamu, kau ingin bicara langsung dengan-KU, maka doamu KU-kabulkan.”

Aku (tertegun) : “Oh, aku tidak menyangka doaku dikabulkan,. Lalu kita ada di mana ?”

TUHAN : “Di dalam mimpimu, ini media paling mudah untuk berbicara.”

AKU (tertegun) : “Ooooh…”

TUHAN : “KU-dengar di doamu, kau ingin mengajukan pertanyaan kepada KU. AKU ingin mendengarnya sekarang.”

Aku : “Benar. Bisakah sekarang kumulai ?”

Tuhan : “Tentu.”

Aku : “TUHAN, tahukah ENGKAU bahwa dunia yg KAU ciptakan ini penuh dengan ketidakadilan. Banyak orang percaya dianiaya. Orang benar menderita. Itu tidak adil TUHAN !”

TUHAN : “Menurutmu, apakah adil, ketika AKU mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosamu??”

Aku : “Kalau begitu, semua orang benar harus menderita di dunia, begitu ?”

TUHAN : “Apakah penderitaan itu selamanya ? Mengapa ketika menderita manusia selalu bertanya “mengapa harus aku?”. Tetapi, ketika senang, mereka tidak pernah bertanya, “mengapa harus aku ?”

Aku : “Kalau begitu, mengapa banyak orang jahat hidup senang ?”

TUHAN : “Kau yakin ?”

Aku : “Ya… walaupun tidak semua …”

Tuhan : “Kalau begitu, cobalah jadi jahat, dan lihatlah, seberapa lama kau akan senang, kau bisa membuktikannya sendiri.”

Aku : “Hidup ini terlalu rumit untuk dijalani, mengapa KAU selalu mendatangkan cobaan dan masalah?”

TUHAN : “Masalah KU-datangkan bukan untuk disesali dan dikeluhi, tapi untuk diselesaikan. Cobaan KU-datangkan untuk menunjukkan adanya diri-KU, dan perlunya berserah pada-KU.”

Aku : “Tapi, setiap masalah datang, Aku selalu berdoa meminta jalan keluar. Tetapi, kadang KAU tidak memberinya ? Mengapa ?”

TUHAN : “Mengapa ? Pertanyaan bagus! Mengapa setiap firman yang KU-perintahkan padamu, kau tidak pernah melakukannya atau selalu menunda-nunda ? Sebelum engkau menuai, menaburlah terlebih dahulu.”

Aku : “Mengapa manusia tidak pernah puas terhadap dirinya ?”

TUHAN : “Manusia tidak akan menyadari betapa berharganya sesuatu, sampai mereka kehilangan semuanya.

Aku : “Karena itulah TUHAN, mengapa penyesalan selalu datang terlambat ? Itu menyebalkan…”

TUHAN : “Kalau belum terlambat, bukan penyesalan namanya. Kalau belum menyesal, manusia tidak akan pernah tahu dimana letak kesalahannya.”

Aku : “Memang benar. Tapi, penyesalan selalu mendatangkan penderitaan.”

TUHAN : “Ketika penyesalan datang, manusia diberi 2 pilihan. Pertama, segera bangkit dan meninggalkan duka-citanya. Itu membuat manusia makin kuat dan terasah. Kedua, berkata : “Aku tidak kuat, beban ini terlalu berat untuk dijalani”. itu mendatangkan penderitaan.”

Aku : “Perlukah aku memelihara doa dan waktu untuk-MU setiap harinya ?”

Tuhan : “Perlukah AKU mejagamu dan mengawasimu setiap harinya ?”

Aku : “TUHAN, seringkali aku sudah berusaha dan berusaha, tapi selau gagal ! Mengapa ?”

TUHAN : “Berapa kali kau mencoba ?”

Aku : “Katakanlah 10 kali.”

TUHAN : “Bagus. Kalau begitu kau sudah mengetahui 10 cara yg tidak berhasil. Jangan samakan kegagalan dengan pengalaman. Manusia tidak pernah gagal, sampai dia berhenti berusaha.”

Aku : “Tapi, semua itu terlalu beresiko TUHAN. Setiap usaha mempunyai resiko.”

TUHAN : “Sesungguhnya, ketika kau takut mengambil satu resiko, kau telah mengambil resiko yang tersisa, yaitu kau tidak akan pernah berhasil !”

Aku : “Kalau begitu, bagaimana cara mendapat kesenangan hidup ?”

TUHAN : “Cintailah dirimu sendiri, dan senantiasa bersyukur. Hidup ini sebenarnya indah. Jika masalah datang, jangan biarkan masalah menguasai dirimu, tetapi belajarlah menguasai masalah. Ah, waktu kita habis, kau sudah harus bangun pagi…”

Aku : “Kapan kita bisa berbicara seperti ini lagi ?”

Tuhan : “Kapanpun. Sebenarnya jarak Kita hanya dipisahkan oleh doa.”

Aku : “Oke, terima kasih TUHAN atas pembicaraan yg indah ini.”

TUHAN : “Sama-sama.”

Aku pun terbangun dari mimpiku……

Love Unconditionally

Posted in renungan oleh antoniuszone pada Oktober 27, 2008
Tags: , ,

Photobucket

Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit. Semakin hari semakin tidak ada kecocokan diantara kami. Kami bertengkar karena hal-hal kecil. Karena Ellen lambat membukakan pagar saat aku pulang kantor. Karena meja sudut di ruang keluarga yang ia beli tanpa membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang saja.

Hari ini, 27 Agustus adalah ulang tahun Ellen. Kami bertengkar pagi ini karena Ellen kesiangan membangunkanku. Aku kesal dan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang
biasa kulakukan di hari ulang tahunnya tak mau kulakukan. Malam
sekitar pukul 7, Ellen sudah 3 kali menghubungiku untuk memintaku
segera pulang dan makan malam bersamanya, tentu saja permintaannya
tidak kuhiraukan.

Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan
beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi
jalan di tengah kota Jakarta masih saja macet, aku benar-benar
dibuat kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan bertemu dengan
Ellen membuatku semakin kesal! Akhirnya aku sampai juga di rumah
pukul 12 malam, dua jam perjalanan kutempuh yang biasanya aku
hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di rumah.

Kulihat Ellen tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti
di hadapannya dan memandang wajahnya. “Ia sungguh cantik” kataku
dalam hati, “Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun
sejak duduk di bangku SMA yang kini telah kunikahi selama 5 tahun,
tetap saja cantik”. Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi,
aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya.

Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku
itu, buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun
Ellen menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum
menikah, tak pernah ia ijinkan aku membukanya. Inilah saatnya! Aku
tak mempedulikan Ellen, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman
demi halaman secara acak.

14 Februari 1996. Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti
bagiku, Vincent, pacar pertamaku yang akan menjadi pacar terakhirku.

Hmm. aku tersenyum, Ellen yakin sekali kalau aku yang akan menjadi
suaminya.

6 September 2001, Tak sengaja kulihat Vincent makan malam dengan
wanita lain sambil tertawa mesra. Tuhan, aku mohon agar Vincent
tidak pindah ke lain hati.

Jantungku serasa mau berhenti…

23 Oktober 2001, Aku menemukan surat ucapan terima kasih untuk
Vincent, atas candle light dinner di hari ulang tahun seorang
wanita dengan nama Melly. Siapakah dia Tuhan? Bukakanlah mataku
untuk apa yang Kau kehendaki agar aku ketahui.

Jantungku benar-benar mau berhenti. Melly, wanita yang sempat
dekat denganku disaat usia hubunganku dengan Ellen telah mencapai
5 tahun. Melly, yang karenanya aku hampir saja mau memutuskan
hubunganku dengan Ellen karena kejenuhanku. Aku telah memutuskan
untuk tidak bertemu dengan Melly lagi setelah dekat dengannya
selama 4 bulan, dan memutuskan untuk tetap setia kepada Ellen. Aku
sungguh tak menduga kalau Ellen mengetahui hubunganku dengan
Melly.

4 Januari 2002, Aku dihampiri wanita bernama Melly, Ia menghinaku
dan mengatakan Vincent telah selingkuh dengannya. Tuhan, beri aku
kekuatan yang berasal daripadaMu.

Bagaimana mungkin Ellen sekuat itu, ia tak pernah mengatakan
apapun atau menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah
menghianatinya. Aku tahu Melly, dia pasti telah membuat hati Ellen
sangat terluka dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya.
Nafasku sesak, tak mampu kubayangkan apa yang Ellen rasakan saat
itu.

14 Februari 2002, Vincent melamarku di hari jadi kami yang ke-6.
Tuhan apa yang harus kulakukan? Berikan aku tanda untuk keputusan yang
harus kuambil.

14 Februari 2003, Hari minggu yang luar biasa, aku telah menjadi
Nyonya Alexander Vincent Winoto. Terima kasih Tuhan!

18 Juli 2005, Pertengkaran pertama kami sebagai keluarga. Aku
harap aku tak kemanisan lagi membuatkan teh untuknya. Tuhan, bantu
aku agar lebih berhati-hati membuatkan teh untuk suamiku.

7 April 2006, Vincent marah padaku, aku tertidur pulas saat ia
pulang kantor sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama.
Seharian aku berada mall mencari jam idaman Vincent, aku ingin
membelikan jam itu di hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari
lagi. Tuhan, beri kedamaian di hati Vincent agar ia tidak marah
lagi padaku, aku tak akan tidur di
sore hari lagi kalau Vincent belum pulang walaupun aku lelah.

Aku mulai menangis, Ellen mencoba membahagiakanku tapi aku malah
memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah
jam kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak kusadari ia
membelikannya dengan susah payah.

15 November 2007, Vincent butuh meja untuk menaruh kopi di ruang
keluarga, dia sangat suka membaca di sudut ruang itu. Tuhan, bantu
aku menabung agar aku dapat membelikan sebuah meja, hadiah Natal
untuk Vincent.

Aku tak dapat lagi menahan tangisanku, Ellen tak pernah mengatakan
meja itu adalah hadiah Natal untukku. Ya, ia memang membelinya di
malam Natal dan menaruhnya hari itu juga di ruang keluarga.

Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Ellen
sungguh diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa syarat.
Aku berlari keluar kamar, kukecup kening Ellen dan ia terbangun.
“Maafkan aku Ellen, Aku mencintaimu, Selamat ulang tahun.” (ts)

Some reflections :

1. Bila manusia sanggup mencintai manusia yang lain tanpa syarat, terlebih lagi cinta Tuhan terhadap kita. He gave His One and Only Son for us [Yoh 3 : 16]


2.Terkadang kita manusia hanya menilai apa yang tampak dari luar, terlebih saat kita jenuh dalam suatu hal, segala sesuatu yang kita lihat akan selalu tampak salah. Belajarlah untuk bertahan dalam masa sulit


3. Dont judge a book by its cover. Bukan apa yang dilihat mata yang menentukan baik buruknya seseorang, tapi motivasi dan sikap hati kita yang menjadi takaran :) karena terkadang sekalipun kita punya motivasi dan ketulusan hati namun perbuatan / sikap kita tidak sesuai dengan kehendak / harapan sesama. So, sekali lagi belajar untuk tidak menilai sesuatu hanya dari apa yang terlihat dari luar



Kado Terindah

Posted in renungan oleh antoniuszone pada Oktober 26, 2008
Tags: , , , , ,

Photobucket

Aneka kado banyak dijual di toko, tapi kado ini tidak dijual ditoko. Namun anda bisa menghadiahkannya setiap saat dan tak perlu mengeluarkan uang sepeserpun, apalagi pakai dibungkus-bungkus. Bisa menjadi kenang-kenangan sepanjang masa, bila merasa bermanfaat. Dan bisa dibuang begitu saja, tanpa perlu menyesal, bila merasa tidak ada manfaatnya. Meski begitu, delapan items dalam satu kado ini adalah hadiah yang mungkin terindah dan tak bernilai harganya bagi orang2 yang menemukan sesuatu kebenaran didalamnya. Mari kita buka kado tersebut dan keluarkan satu persatu item dalam kado ini :
Item Pertama adalah KEHADIRAN,
Kehadiran orang yang dikasihi rasanya merupakan kado yang tak ternilai harganya. Memang kehadirannya di zaman ini bisa saja ditandai dengan surat, telephone, foto atau faks. Namun kehadiran yang nyata dan berkualitas adalah dimana saling berhadapan, berdampingan, saling berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Jadikan setiap kehadiran anda sebagai pembawa angin kebahagiaan.
Item Kedua adalah MENDENGAR,

Sedikit orang yang mampu dan tahan mendengar. Sebab, kebanyakan orang lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan. Sudah lama diketahui bahwa keharmonisan hubungan antar manusia dibentuk oleh kesediaan saling mendengarkan. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar dengan baik, pastikan anda dalam keadaan betul2 relaks and bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya, ini memudahkan anda memberikan tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasihpun akan terdengar manis baginya.
Item Ketiga adalah DIAM,

Seperti kata2, didalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya, diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang, karena kita memberinya “ruang”. Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa selalu menasihati orang, mengatur orang, mengkritik orang, bahkan mengomeli orang.
Item Keempat adalah KEBEBASAN,
Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang2 yang kita cintai. Apakah itu bukan berarti mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.
Item Kelima adalah KEINDAHAN,
Mewujudkan keindahan dan kesederhanaan juga merupakan hal penting. Keindahan dapat dilihat dari penampilan pribadi, keindahan suasana dirumah, keindahan bertutur kata, keindahan bersikap, dll.
Item Keenam adalah MEMANDANG POSITIF,
Tanpa sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang disekitar kita, seolah-olah tidak ada yang benar dan kebenaran mutlak hanya pada diri pribadi. Sekali-kali hadiahkan tanggapan positif pada orang lain. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukan demi anda, terhadap pasangan kita masing-masing, anak2, tetangga, teman, dll. Sudahkan anda tulus memuji seseorang tanpa embel2 ? Ucapan terima kasih, pujian dan permintaan maaf adalah sesuatu yang indah yang sering terlupakan.
Item Ketujuh adalah MENGALAH,
Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai menjadi perseteruan yang hebat. Semestinya menimbang rasa harus membayangi setiap langkah. Bisa jadi, anda mungkin kesal atau marah karena tidak seperti yang diharapkan, lalu apakah karena tidak sesuai maka harus berlarut? Kenapa menjadi sesuatu hal yang memicu untuk terus berlarut2? Tidaklah ada manusia yang sempurna didunia ini.
Item Kedelapan adalah SENYUMAN,
Kekuatan senyuman amat luar biasa. Khususnya senyum yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputus asaan, pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan syarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali anda menghadiahkan senyuman pada orang disekitar anda, atau orang asing sekalipun?

“BE BLESS EVERYDAY WITH WISDOM AND LOVE THAT BEEN GIVEN”

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.