Antoniuszone’s Weblog


Love Unconditionally

Posted in renungan oleh antoniuszone pada Oktober 27, 2008
Tags: , ,

Photobucket

Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit. Semakin hari semakin tidak ada kecocokan diantara kami. Kami bertengkar karena hal-hal kecil. Karena Ellen lambat membukakan pagar saat aku pulang kantor. Karena meja sudut di ruang keluarga yang ia beli tanpa membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang saja.

Hari ini, 27 Agustus adalah ulang tahun Ellen. Kami bertengkar pagi ini karena Ellen kesiangan membangunkanku. Aku kesal dan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang
biasa kulakukan di hari ulang tahunnya tak mau kulakukan. Malam
sekitar pukul 7, Ellen sudah 3 kali menghubungiku untuk memintaku
segera pulang dan makan malam bersamanya, tentu saja permintaannya
tidak kuhiraukan.

Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan
beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi
jalan di tengah kota Jakarta masih saja macet, aku benar-benar
dibuat kesal oleh keadaan. Membayangkan pulang dan bertemu dengan
Ellen membuatku semakin kesal! Akhirnya aku sampai juga di rumah
pukul 12 malam, dua jam perjalanan kutempuh yang biasanya aku
hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di rumah.

Kulihat Ellen tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti
di hadapannya dan memandang wajahnya. “Ia sungguh cantik” kataku
dalam hati, “Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun
sejak duduk di bangku SMA yang kini telah kunikahi selama 5 tahun,
tetap saja cantik”. Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi,
aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya.

Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku
itu, buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun
Ellen menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum
menikah, tak pernah ia ijinkan aku membukanya. Inilah saatnya! Aku
tak mempedulikan Ellen, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman
demi halaman secara acak.

14 Februari 1996. Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti
bagiku, Vincent, pacar pertamaku yang akan menjadi pacar terakhirku.

Hmm. aku tersenyum, Ellen yakin sekali kalau aku yang akan menjadi
suaminya.

6 September 2001, Tak sengaja kulihat Vincent makan malam dengan
wanita lain sambil tertawa mesra. Tuhan, aku mohon agar Vincent
tidak pindah ke lain hati.

Jantungku serasa mau berhenti…

23 Oktober 2001, Aku menemukan surat ucapan terima kasih untuk
Vincent, atas candle light dinner di hari ulang tahun seorang
wanita dengan nama Melly. Siapakah dia Tuhan? Bukakanlah mataku
untuk apa yang Kau kehendaki agar aku ketahui.

Jantungku benar-benar mau berhenti. Melly, wanita yang sempat
dekat denganku disaat usia hubunganku dengan Ellen telah mencapai
5 tahun. Melly, yang karenanya aku hampir saja mau memutuskan
hubunganku dengan Ellen karena kejenuhanku. Aku telah memutuskan
untuk tidak bertemu dengan Melly lagi setelah dekat dengannya
selama 4 bulan, dan memutuskan untuk tetap setia kepada Ellen. Aku
sungguh tak menduga kalau Ellen mengetahui hubunganku dengan
Melly.

4 Januari 2002, Aku dihampiri wanita bernama Melly, Ia menghinaku
dan mengatakan Vincent telah selingkuh dengannya. Tuhan, beri aku
kekuatan yang berasal daripadaMu.

Bagaimana mungkin Ellen sekuat itu, ia tak pernah mengatakan
apapun atau menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah
menghianatinya. Aku tahu Melly, dia pasti telah membuat hati Ellen
sangat terluka dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya.
Nafasku sesak, tak mampu kubayangkan apa yang Ellen rasakan saat
itu.

14 Februari 2002, Vincent melamarku di hari jadi kami yang ke-6.
Tuhan apa yang harus kulakukan? Berikan aku tanda untuk keputusan yang
harus kuambil.

14 Februari 2003, Hari minggu yang luar biasa, aku telah menjadi
Nyonya Alexander Vincent Winoto. Terima kasih Tuhan!

18 Juli 2005, Pertengkaran pertama kami sebagai keluarga. Aku
harap aku tak kemanisan lagi membuatkan teh untuknya. Tuhan, bantu
aku agar lebih berhati-hati membuatkan teh untuk suamiku.

7 April 2006, Vincent marah padaku, aku tertidur pulas saat ia
pulang kantor sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama.
Seharian aku berada mall mencari jam idaman Vincent, aku ingin
membelikan jam itu di hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari
lagi. Tuhan, beri kedamaian di hati Vincent agar ia tidak marah
lagi padaku, aku tak akan tidur di
sore hari lagi kalau Vincent belum pulang walaupun aku lelah.

Aku mulai menangis, Ellen mencoba membahagiakanku tapi aku malah
memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah
jam kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak kusadari ia
membelikannya dengan susah payah.

15 November 2007, Vincent butuh meja untuk menaruh kopi di ruang
keluarga, dia sangat suka membaca di sudut ruang itu. Tuhan, bantu
aku menabung agar aku dapat membelikan sebuah meja, hadiah Natal
untuk Vincent.

Aku tak dapat lagi menahan tangisanku, Ellen tak pernah mengatakan
meja itu adalah hadiah Natal untukku. Ya, ia memang membelinya di
malam Natal dan menaruhnya hari itu juga di ruang keluarga.

Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Ellen
sungguh diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa syarat.
Aku berlari keluar kamar, kukecup kening Ellen dan ia terbangun.
“Maafkan aku Ellen, Aku mencintaimu, Selamat ulang tahun.” (ts)

Some reflections :

1. Bila manusia sanggup mencintai manusia yang lain tanpa syarat, terlebih lagi cinta Tuhan terhadap kita. He gave His One and Only Son for us [Yoh 3 : 16]


2.Terkadang kita manusia hanya menilai apa yang tampak dari luar, terlebih saat kita jenuh dalam suatu hal, segala sesuatu yang kita lihat akan selalu tampak salah. Belajarlah untuk bertahan dalam masa sulit


3. Dont judge a book by its cover. Bukan apa yang dilihat mata yang menentukan baik buruknya seseorang, tapi motivasi dan sikap hati kita yang menjadi takaran🙂 karena terkadang sekalipun kita punya motivasi dan ketulusan hati namun perbuatan / sikap kita tidak sesuai dengan kehendak / harapan sesama. So, sekali lagi belajar untuk tidak menilai sesuatu hanya dari apa yang terlihat dari luar



2 Tanggapan to 'Love Unconditionally'

Subscribe to comments with RSS atau TrackBack to 'Love Unconditionally'.

  1. David said,

    Jgn berhenti menulis renungan ya.. semua renungan anda menyentuh hati… kenapa renungna cuma sampai bulan nov aja?? ayo tetap membagi berkat untuk sesama…

    Gbu

    Best Regards,

    David ^^

  2. antoniuszone said,

    Syalom David🙂
    Iya ada kesibukan beberapa waktu belakangan ini sehingga blog ini sedikit terbengkalai…. tapi saya akan usahakan untuk tetap aktif membagi berkat disini

    Tuhan berkati…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: